Archive

Entertainmet


Saat ini banyak perusahaan Indonesia yang memiliki kerjasama dengan pengusaha dari Korea. Baik perusahaan Indonesia yang mulai memasarkan produknya ke pasar Korea, maupun dari pihak pengusaha Korea yang berinvestasi di Indonesia dan memasarkan salah satu bahan produknya di Indonesia.

Bahasa adalah media komunikasi yang mampu menjembatani kedua belah pihak untuk mencapai target perusahaan masing-masing. Di sinilah peran interpreter (penerjemah lisan) dan translator (penerjemah tulis) menjadi sangat vital dan sekaligus memudahkan proses komunikasi antara pihak Indonesia dan Korea.

Untuk memudahkan proses komunikasi antara pihak Anda dan Korea, kami siap membantu Anda untuk menjadi freelance translator dan interpreter. Sebagai lulusan dari universitas pertama dan terbaik di Indonesia, kami lulusan dari Universitas Gadjah Mada memiliki kemampuan penerjemahan bahasa Korea-Indonesia, maupun English-Korean baik dari segi oral (lisan) maupun writing (tertulis). 

Karena kami dibekalai dengan kemampuan berbicara (speaking), listening (menyimak), serta writing (tulis) dengan hasil yang mampu dipertanggungjawabkan.

 

Contact Person : Yutsa

-email : yutsazula@gmail.com

-twitter : @yutsaazula

-phone only by request via email


Yeot is a variety of hangwa, or Korean traditional confectionery. It can be made in either liquid or solid form, as a syrup, taffy, or candy. Yeot is made from steamed rice, glutinous rice, glutinous sorghum, corn, sweet potatoes, or mixed grains. The steamed ingredients are lightly fermented and boiled in a large pot called a sot (솥) for a long time.

Yeot boiled for a shorter time is called jocheong (조청), liquid yeot. This sticky syrup-like jocheong (or grains syrup) is usually used as a condiment for cooking and for coating other hangwa, or as a dipping sauce for garae tteok, white cylindrical tteok.

If boiled for a longer time, the yeot will solidify when chilled, and is called gaeng yeot (갱엿). Gaeng yeot is originally brownish but if stretched (as taffy is prepared), the color lightens. Pan-fried beans, nuts, sesame, sunflower seeds, walnuts, or pumpkin can be added into or covered over the yeot as it chills. Variations of yeot are named for their secondary ingredients, as follows

Types of yeot :

  • Ssallyeot (쌀엿) – made from rice
  • Hobangnyeot (호박엿) – made with pumpkin, local specialty of Ulleungdo
  • Hwanggollyeot (황골엿) – made from a mixture of rice, corn, and malt.[3]
  • Kkaeyeot (깨엿) – covered with kkae (깨, sesame)[4]
  • Dangnyeot (닭엿) – local specialty of Jeju Island, made with glutinous millet and chicken[5]
  • Kkwongnyeot (꿩엿) – local specialty of Jeju Island, made with glutinous millet and pheasant meat[6]
  • Dwaejigogiyeot (돼지고기엿) – local specialty of Jeju Island, made with glutinous millet and pork[7][8]
  • Haneuraegiyeot (하늘애기엿) – local specialty of Jeju Island, made with glutinous millet and haneulaegi herb[2][9]
  • Boriyeot (보리엿) – local specialty of Jeju Island, made with barley
  • Maneullyeot (마늘엿) – local specialty of Jeju Island, made with glutinous millet and garlic[10]

The word yeot as slang

Yeot Seller in the old times

In modern times the Korean phrase “eat yeot” (엿 먹어라) has a vulgar meaning, comparable to using the word ‘fuck’ in English. The phrase originated from the middle school entry exams scandal of 1964. One of the multiple choice questions asked in the exam: “Which of the following ingredients can be used instead of yeot oil (엿기름, i.e. barley malt) to make yeot?” The correct answer was diastase, but another one of the multiple choices was mu juice, which many people argued was also a correct answer. The parents of the students whose grades suffered from this result held demonstrations and protests in front of government education bureaus and offices, holding up yeot made with mu juice and yelling to the officials to “eat yeot“.


양념 이름 (yang-nyeom ee-reum) = Spice Name

a seasoning (= spice) (양념 > yang-nyeom, 조미료 > Jomiryo)
sugar (설탕 > seol thang)
cube sugar (각설탕 > kak-seol- thang)
refined sugar/white sugar (백설탕 > baek-seol-thang, 정제설탕 > jeong-je-seol-thang)
brown sugar (갈색설탕 > kal-saek seol-thang)
raw[unrefined] sugar (흑설탕 > heuk-seol-thang)
sesame seed (깨 > Kkae)
soy (sauce) (간장 > gan-jang), Indonesia : kecap
fermented soybean paste (된장 > dwenjang), Indonesia : tauco
soypaste mixed with red peppers/red chilli sauce (고추장 > go-chu-jang)
powdered red pepper (고추가루 > go-chu ga-ru), Indonesia : bubuk cabe
sesame oil (= gingili) (참기름 > cham-gi-reum)
mayonnaise (마요네즈 ? may-yo-ne-jeu)
margarine[마져린] (마아가린 > ma-ah-ga-rin)
salt (소금 ? so-geum)
pepper (후추 > hu-chu)
vinegar (식초 > sik-cho)

ketchup (케챱 > khe-cyap)
mustard (겨자 > gyo-ja)
flavor (향료 > hang-ryo)
ingredient (재료 > je-ryo, 성분 > seong-bun)
MSG (미원 > mi-won)
garlic power (분말 마늘 > bun-mal ma-neul)
onion power (분말 양파 > bun-mal ma-neul)
red pepper (고추 > go-chu),
herb (향초 > 향초)


hello fellow reader. may I post my writing today in Indonesia? Since it will make more Indonesian readers easier to track my post and quickly find their passion,,hehe :)

Oke, Karena akhir-akhir saya sedang sering dilanda tidak mood kerja, saya sering mneghabiskan “waktu senggang” saya untuk mencari passion saya. saya menemukan sebuah blog post yang menjelaskan cara mudah untuk menemukan dan memahami apa sebenarnya passion kita. nanti akan saya post di judul yang berbeda.

Sebelumnya saya cerita dulu tentang bagaimana awalnya saya menyangka passion saya adalah traveling. Saya punya seorang teman di kantor, untungnya dia satu ruangan dengan saya (seandainya kami tidak satu ruangan kami tidak akan banyak berbicara tentang jalan-jalan/backpacking). Well, pertama kali saya dengar bahwa umur dia sebenarnya berbeda 6~7 tahun daripada saya, I was surprised. he’s not look that old actually, dengan pembawaan yang bubbly, hop on every where, he’s actually look like a 25 years old guy.

Singkat cerita, karena sering berbicara dengan dia dan tahu dia hobi traveling in a budget, saya merasa bahwa jangan-jangan sebenarnya yang membuat hidup saya bahagia adalah jalan-jalan? bepergian ke sebuah tempat baru, ke negara baru, tempat yang asing, percakapan di sekitar yang asing, serta makanan-makanan authentic yang sulit ditemukan di negara kita sendiri?

Saya pertama kali ke luar negeri di tahun 2008. Saya pergi ke Korea. Yeay..Korea  meeen…

Booming K-Pop pun baru awal-awalnya itu. Berangkat ke Korea dalam rangka Asian Youth Camp yang tahun itu diikuti oleh 22 negara di Asia. Mulai Asia Tenggara, Asia Timur, Asia Barat, Asia Tengah dan Asia Selatan. Mulai tetangga paling dekat dengan Indonesia seperti Malaysia, Brunei dan Singapore hingga negara-negara Asia tengah yang baru pertama kali saya dengar namanya seperti Kyrgyzstan atau Uzbekistan.

Proses seleksi partisipan pun melalui masing-masing universitas. Saat itu kami bersepuluh masing masing berasal dari UI, UNAS, UGM, UNHAS (makasar), dan UNLAM (banjarmasin). Dari  UGM hanya dipitu dilih 2 orang dari jurusan bahasa Korea. para mahasiswadi seleksi dengan tes wawancara bahasa Inggris dan bahasa korea. Persyaratannya waktu itu adalah bisa menari/seni untuk dipertunjukkan di Summer Camp nanti.

I’m confident enough in English Speaking test, but errr…. please don’t ask me with Korean. Saya memang adalah mahasiswa tahun kedua saat itu, but FYI selama 2 tahun belajar bahasa Korea adalah masa-masa kelam saya dalam belajar bahasa Korea ini. I was keep struggle to stay study the Korean grammar thingy, and not give up and take another major for my undergraduate program. trust me it is not as easy and simple as you think.

Singkat cerita, saya lolos ke seleksi kedua yang hanya diikuti 4 peserta yang lolos. It was actually 3, karena para dosen sudah memberika hak veto yg tidak bisa diganggu gugat. Yup, satu orang sudah terpilih, yang pastinya orang ini jago Korea, Inggris dan pintar traditional dance.Intinya, hasil akhirnya saya TIDAK LOLOS seleksi kedua. Entah saya jatuh di poin yang mana, kalau menurut saya sih di bagian motivasi ke sana (saya selalu benci dengan bagian “apa motivasi Anda dan yakinkan kami bahwa Anda layak terpilih”).

Sekitar seminggu sebelum deadline, pas saya sedang enak-enaknya nongkrong di sebuah wi-fi cafe, pas saya asik-asiknya ngenet bersama teman baik saya yg saya kenal dari pertama kali masuk Universitas (dan dia adalah orang menenangkan saya ketika saya menangis karena gagal lolos seleksi ke Korea), dosen saya menyuruh saya untuk datang ke ke jurusan karena saya sebagai pengganti 1 partisipan yang siap diberangkatkan tersebut.

Yap, PENGGANTI ataupun cadangan sama kali yaa, maksudnya.. Konotasi pengganti sebenarnya   begitu saya sukai, tapi siapa sih yang tidak mau kalau disuruh menggantikan untuk jalan-jalan ke Korea selama 3 minggu dan hanya perlu bawa diri, baju dan pakaian dalam? :D

program yang saya ikuti memang dibayar sepenuhnya oleh Korean Embassy, tiket dari jogja~jakarta, Jakarta~Incheon dan itu pulang pergi. Menyia-nyiakan kesempatan untuk membuat paspor pertama kalinya, memakai lambang bendera Indonesia di dada dengan super bangga di hadapan khalayak Internasional, membawa tolak angin ke luar negeri pertama kalinya, dan juga membawa travel trolley ke tanah di luar Indonesia? That’s sound silly if I reject this opportunity.

Perjalanan pertama kali ke luar negeri  badalah kesempatan buat ngerasaian kalau gw bener-bener anak bokap gue. Haha.. Ayah saya memang sering kali ke luar negeri untuk tugas dinas. ke luar negeri tanpa keluar uang sepeser pun, jalan-jalan di negara baru, makan makanan baru dan asing yang .mengundang selera, eh masih dibayar pula. Sedangkan Ibu saya belum pernah ke luar negeri sama sekalai (and sadly, I recently know that she thinks travelling abroad which spent much money is just a waste. We can’t only wait and ask for god that we always can travelling for free,right?)

oke, ini langsung cerita tentang saya sudah hidup di Korea selama 3 minggu. setelah saya pulang kembali ke Indonesia, saya tidak pernah bisa melupakan bagaimana ‘rasa’ Korea dan jalan-jalan ke luar negeri. Traveling itu memberikan efek surreal yang tidak bisa kamu jelaskan sama sekali. Apa yah namanya, perasaan “membuncah” dalam hati. Kayak hati lo seneeeng banget bisa ada di suatu tempat yang indah yang belum pernah lo liat sebelumnya, tapi nggak bisa ngasih tau siapa-siapa, kira-kira gitu deh. haha.

perasaan itu diperparah dengan adanya tanggapan dari teman-teman atau orang di sekitar sya yang bilang “wah, kamu udah pernah ke Korea?”.Suddenly I feel so fuckin’ Lucky. Di saat saya dicemooh mengambil major yang tidak populer dan mendapat high-rave semacam ekonomi manajemen, akuntansi atau komunikasi, justru major saya inilah yang mengantar saya ke gerbang dunia (ya, berkat ambil major Korean studies pula saya bisa jalan-jalan ke malaysia -besok besok saya janji bakal post deh ceritanya-)

penasaran kan,sama benefit yang saya dapat setelah jalan jalan ke Korea? klik di blog saya yang satu lagi deh… di sini


haloo..kali ini saya akan berbagi tentang bagaimana pembagian waktu dalam satu hari dengan bahasa Korea.

tengah malam (midnight) :  저정
tengah hari (midday).        :  정오

contoh:
saya mendengar suara anjing di malam hari.
저는 저정에 개의 소리를 들었다.

orang islam shalat dhuhur di tengah hari.
이슬람 사람은 두후르 기도가 정오에 하였다.

am : 오전
berlaku dari matahari terbit sampai matahari terbenam

pm : 오후
berlaku dqri matahari terbenam sampai twngah malam

contoh
kita bertemu pukul 7 am saja.
그냥 오전 7시에 만나자!

saya ada dinner meeting di restoran Jepang jam 10 pm.
저는 오후 10시에 일본 식당에서 저녁 회식이 있다.

subuh : 새벽
01.00 ~ 03.00

pagi : 아침
04.00 ~11.00

siang : 낮
12.00 ~ 15.00

sore/petang: 저녁
18.00 ~ 21.00

malam : 밤
21.00 ~ 00.00


Di bawah ini bukan hasil penulisan sayaa, I copy paste  from this informative blog, hangukdrama.

di Korea sendiri, banyak pengguna kakaotalk, dan saya berkomunikasi dengan teman teman saya yang notabene orang Korea atau dengan boss saya yg sedang pulang sebentar ke korea/walaupun di kantor dengan Kakao. Tapi di Indonesia LINE yang dibundling dengan telkomsel lebih digemari dan populer. sebenarnya apa sih perbedaan Kakaotalk dan Line? ini artikel yang sama ambil dengan full credit dari situs tersebut.

 

The battle of messaging apps.

Actually, not much of a battle in Korea where Kakaotalk is the dominant app. Kakaotalk trumps all the other apps (LINE, Tik Tok, Whatsapp etc), mostly due to a first mover advantage (in my opinion). Look around in the subway train, where 7 out of 10 are typing furiously on their smartphones. And dare I say at around 4-5 will be using Kakaotalk? As many of you might have heard, Kakaotalk has become the ‘default’ communication tool among Koreans. Sucks to be a foreigner in Korean without constant access to 3G. I feel like I am in my own world.

But in other regions where neither is dominant, it is interesting to do a comparison of the services and how they might fare. Both are technically Korean apps, but LINE is technically produced by NAVER JAPAN, a subsidiary of NAVER – Korea’s most popular search engine. Curious as to why NHN Japan instead of NHN Korea. Here’s an interesting article.

LINE. That’s my choice. Although I admit that I have both apps – Kakaotalk to communicate with Korean friends; LINE almost exclusively for group chats with my best friends.

Both apps are in essence, very similar. Both tells you if the other party (or how many in a group chat) has read the message. But you won’t know who has read it. I still remember Tik Tok having the more creepy useful feature where you can see if the other party is typing a message at the moment. So it sucks to see the person typing … and then stopped. And starting to type.. and stop. I am actually kind of glad to see it missing in both apps.

EMOTICONS VS STICKER CARTOONS 

But they differ in additional features. When it comes to LINE, the best part of it is of course, the emoticons. Or sticker cartoons as they are called. AWESOME. You can literally have a meaningful conversation just by sending stickers to and fro. I like how they do not restrict themselves to the plain emoticons (they have a wonderful set too) but go beyond that to create stickers that are actually useful and often conveying stuff that are common feelings / situations etc. Kakaotalk pales in comparison, although they have upgraded their emoticon set to include animated gifs, it feels like of strange cos of the border – would much prefer borderless stickers in LINE.

LINE

Kakaotalk

SEAMLESS INTEGRATION

I love how LINE can also be accessed using the computer. Downloaded it for my macbook and was able to login quickly by scanning the QR code with my phone. No need for login details, although you can choose to do it that way. It lags sometimes but I am generally happy with it. Not so much my friends. I am known to be a spammer and being able to type quickly on the keyboard seems to motivate me to send loads of messages across like an MSN chat. Which freezes up my friends’ phones.

VOICE MESSAGES

‘I am really sad that LINE does not offer short voice messages.’ I was about to say this when I realize that the newest update to LINE finally includes the much-appreciated feature!!! *punches air* One more reason for me to switch over to LINE completely.. if only there are more Korean LINE users……….

LINE CAMERA 

Another point for LINE! The camera is essentially a photo sticker machine and I love how you get everything – filters, borders, stamps, brushes, text input. EVERYTHING. It has all the fun of a neoprint machine and you get to save on money!! 7000won.  Loving the the Negative filter and all the brushes!!! *goes crazy* Although I was initially disappointed that it is a separate app instead of a feature in LINE, I think it is a good idea. It works seamlessly with LINE – pressing the icon in LINE brings you to the LINE CAMERA app and after you are done with it, click ‘send to LINE’ and you are brought back to the convo. I like how you can directly send the photos to a wide variety of social media services. AWESOME.

Location vs Phone Contact 

LINE allows you to share your location via a button and Kakaotalk allows you to share phone contacts via a button too. Both are good features and I wish they are both available in a single app.

Users

No matter how good an app is, there is no point if there are no users. Especially if it is a social app. The biggest disadvantage of LINE is that there are NO KOREAN USERS. Only a few of my Korean friends have LINE but none of them actively uses the app. D:

 

Jadi, mana yang lebih Anda pilih? kakaotal atau LINE? saya menginstall kedua aplikasi ini di samping juga whatsapp dan talk.. tapi kalau kakaotalk masih bisa download stiker emoticon gratis (trial)

http://hangukdrama.wordpress.com/2012/06/22/kakaotalk-vs-line/#comment-7041


Anda sedang bekerja di perusahaan korea, tapi masih belum paham bagaimana cara berpikir mereka? intip deh tips di bawah ini:

1. #koreanboss gila kerja,terobsesi pada tugas dan fokus pada target yg hendak dicapai -goal oriented

2. #koreanboss hobi bekerja lembur dan ingin anggota timnya memiliki kebiasaan yg sama

3. #koreanboss itu people oriented.mrk mau mengetahui tentang kryawan scr personal,mrka jg mau mengajari karyawannya sampai bsa

4. #koreanboss suka dgan kejujuran.jika anda tdk bs,maka katakanlah.Tapi tunjukkan antusiasme dan keinginan anda untk belajar.

5. #koreanboss spt negara asia timur lain,menjunjung sopan santun. sapa,senyum dan berbicaralah dgn sopan saat bertemu dgn.ny

6. #koreanboss biasanya sedikit bicara dan bnyk mendengar.

7. #koreanboss percaya bahwa sistem kerja yg baik akan mampu melibatkan partisipasi seluruh anggota tim.

8. #koreanboss sangat setia trhadap pkerjaannya dan mengenakj pekerjaanny dgn baik.oleh krn itu mrka lbh mencari kryawan yg loyalitas tnggi

9. #koreanboss menilai keseriusan bekerja dr hasil yg dicapai

10. sampaikan pendapat kepada #koreanboss anda dgn sopan tp tegas

itu tadi adalah 10 tips tentang bagaimana menghadapi bos Korea Anda.  Saat ini saya juga sedang bekerja di sebuah perusahaan korporasi perusahaan Korea di plant Jawa Timur. Coba kenali korean boss Anda agar lebih dekat dengannya.

twits di atas pernah saya post di @yutsaazula pada tanggal 20 Juni 2012